Realitas Sosial (Macam-Macam, Contoh, Konsep, dan Hubungan Antar Realitas Sosial)

Perkembangan sosiologi menghasilkan para pemikir yang senantiasa kritis terhadap realitas sosial. Hasil pemikiran sosiologi memang tidak secara langsung dirasakan dalam proses pengembangan masyarakat. Akan tetapi, sumbangannya sangat besar dalam bentuk analisis dan evaluasi mendasar tentang berbagai hal yang tidak mampu diberikan oleh bidang ilmu lain. Bahkan, sosiologi terapan mampu menangani masalah sosial praktis dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, seorang sosiolog yang melakukan kajian mengenai kemiskinan di Sikka Nusa Tenggara Timur atau masyarakat-masyarakat lain di Indonesia akan menghasilkan analisis yang akurat, kemudian berdasarkan analisis itu dibuat kajian untuk menemukan langkah-langkah mengatasi kemiskinan tersebut. Dengan begitu, sosiologi telah berperan sebagai ilmu terapan.
Realitas Sosial
Untuk mewujudkan peran seperti contoh di atas, sosiologi berusaha mengupas realitas sosial untuk mengungkap fakta-fakta yang tersembunyi di balik fenomena sosial. Sosiologi tidak mau begitu saja menerima apa yang tampak di permukaan sebelum mengungkap apa yang tersembunyi di baliknya. Kasus kemiskinan pada contoh di atas, tentu memiliki kaitan dengan berbagai aspek di masyarakat yang bersangkutan. Aspek-aspek itu antara lain kondisi lingkungan, nilai sosial yang dianut masyarakat, struktur sosial, nilai dan norma sosial, dan bahkan kebudayaan. Suatu daerah boleh saja miskin sumber daya alam, tetapi kalau masyarakatnya menjunjung tinggi nilai kreativitas, berusaha dan memiliki etos kerja tinggi, maka kemiskinan dapat diatasi sendiri. Sebaliknya, suatu daerah yang kaya sumber daya alam tetapi masyarakatnya malas bekerja, tentu kesejahteraan hidup tidak akan tercapai.

Macam-Macam Realitas Sosial di Masyarakat
    Untuk memahami suatu masyarakat, tidak dapat dilakukan sekaligus secara menyeluruh. Sebab, masyarakat terbentuk oleh berbagai aspek. Aspek-aspek itu merupakan suatu realitas yang menyusun masyarakat. Apabila masyarakat diibaratkan sebagai sebuah rumah, maka bagian-bagian yang menyusunnya adalah tiang, dinding, atap, pondasi, dan sebagainya. Demikian juga masyarakat, tersusun atas berbagai realitas sosial. Untuk memahami suatu masyarakat, kita harus memahami berbagai realitas sosial yang membentuk masyarakat itu.
Macam-Macam Realitas Sosial di Masyarakat
Dalam istilah yang digunakan oleh seorang tokoh sosiologi Emile Durkheim, realitas sosial disebut fakta sosial. Fakta sosial adalah cara-cara bertindak, berpikir, dan berperasaan yang bersumber pada satu kekuatan di luar individu, bersifat memaksa dan mengendalikan individu, serta berada di luar kehendak pribadi individu. Emile Durkheim merinci fakta sosial meliputi hukum, moral, kepercayaan, adat-istiadat, tata cara berpakaian, dan kaidah ekonomi yang berlaku di masyarakat. Apakah Anda dapat menghindar dari aturan adat-istiadat daerah? Bagaimana jika Anda memaksakan diri melanggar tata tertib berlalu lintas di jalan raya? Aturan-aturan itu sudah ada di masyarakat bahkan mungkin sejak Anda belum lahir, yang mau tidak mau harus dipatuhi.
Secara lebih rinci, Soerjono Soekanto (1982) menyatakan, bahwa suatu masyarakat tersusun oleh tujuh realitas sosial, yaitu sebagai berikut.
1. Interaksi Sosial
    Ketika Anda bercakap-cakap dengan teman atau menghadap guru, berarti Anda telah melakukan interaksi sosial. Interaksi sosial adalah cara-cara hubungan yang dapat dilihat apabila orang perorangan dan kelompok-kelompok manusia saling bertemu. Interaksi sosial dapat berupa hubungan antarpribadi, antara individu dengan kelompok, antarkelompok, dan antara individu dengan lingkungan.
2. Kebudayaan
    Sebagai makhluk yang memiliki akal dan budi, manusia menciptakan kebudayaan untuk melindungi diri dan memenuhi kebutuhan hidupnya. Misalnya, dalam usaha melindungi diri dari cuaca, manusia menciptakan pakaian dan rumah. Untuk melindungi diri dari ancaman binatang buas, manusia menciptakan berbagai macam alat perlindungan. Kebudayaan yang diciptakan manusia ini juga termasuk fakta sosial yang dikaji sosiologi.
3. Nilai dan Norma Sosial
    Apakah Anda dapat membayangkan hidup di dalam masyarakat tanpa aturan-aturan yang harus dipatuhi bersama? Apa yang akan terjadi apabila anak-anak di rumah merasa tidak perlu menghormati orang tuanya, dan orang tua merasa tidak perlu bertanggung jawab atas kehidupan anak-anaknya? Apa yang akan terjadi apabila para siswa di kelas merasa tidak wajib menghormati guru dan teman-temannya; para pengendara kendaraan di jalan bebas sebebasbebasnya memakai jalan; dan para penjahat dibiarkan saja tanpa hukuman?
Tentu yang terjadi adalah kekacauan. Di situlah peran nilai dan norma sosial. Nilai sosial adalah sesuatu yang bersifat abstrak berupa prinsip-prinsip, patokan-patokan, anggapan, maupun keyakinan-keyakinan yang berlaku di suatu masyarakat. Prinsip-prinsip dalam nilai sosial itu menyangkut penilaian apakah sesuatu baik, benar, dan berharga yang seharusnya dimiliki dan dicapai oleh warga masyarakat. Norma sosial merupakan bentuk konkret dari nilai-nilai sosial yang berupa peraturan, kaidah, atau hukuman. Nilai dan norma sosial merupakan fakta yang ada dalam masyarakat, sehingga tidak bisa diabaikan dalam studi sosiologi.
4. Stratifikasi Sosial
    Di sekolah, Anda pasti merasa adanya perbedaan hak dan kewajiban antara guru dan murid. Di masyarakat atau desa juga terjadi perbedaan kedudukan seperti itu, misalnya si A termasuk orang kaya, sedang si B termasuk orang miskin. Bahkan, dalam masyarakat tradisional kita juga sering dibedakan adanya golongan bangsawan (priyayi) dengan golongan orang kebanyakan. Kenyataan bahwa manusia dalam masyarakat memiliki strata berbeda, tidak boleh diabaikan dalam kajian sosiologi, karena perbedaan itu memberikan dampak pada hubungan dengan kelompok lain dengan segala akibat baik dan buruknya.
Stratifikasi Sosial
5. Status dan Peran Sosial
    Status sosial dapat disamakan dengan kedudukan, peringkat atau posisi seseorang dalam masyarakat. Di dalam suatu status, terkandung sejumlah hak dan kewajiban. Misalnya, seorang yang berstatus sebagai siswa, maka dia memiliki hak untuk mendapatkan ilmu dan sekaligus memiliki kewajiban untuk belajar dengan tekun. Status sosial berkaitan erat dengan peran sosial. Status bersifat pasif, sedangkan peran sosial bersifat dinamis. Peran sosial adalah tingkah laku yang diharapkan muncul dari seseorang yang memiliki status tertentu. Misalnya, tingkah laku yang diharapkan dari seorang yang berstatus siswa adalah rajin belajar, hormat kepada guru, dan lain-lain. Baik peran maupun status sosial turut mewarnai keberadaan suatu masyarakat, karena itu turut dipelajari dalam sosiologi.
6. Perubahan Sosial
    Suatu masyarakat bukanlah komunitas pasif dan monoton melainkan selalu mengalami perubahan-perubahan. Misalnya, perubahan sistem dunia politik di Indonesia yang semula terdiri atas tiga partai politik menjadi sistem multipartai, mau tidak mau telah mengubah tata kehidupan berbangsa dan bernegara. Demikian juga, apabila di kelas Anda tiba-tiba diberlakukan tata tertib baru, tentu para siswa akan menyesuaikan dengan aturan baru itu. Sehingga terjadilah perubahan sosial. Kenyataan di
masyarakat yang selalu berubah seperti itu juga dikaji dalam sosiologi.
Perubahan Sosial


Realitas Sosial dalam Sosiologi
    Setiap ilmu pengetahuan mempunyai objek kajian. Untuk mempelajari objek kajian tersebut para ahli berusaha membuat suatu konsep. Konsep adalah pengertian yang menunjuk pada sesuatu. Contoh pada ilmu matematika, konsep-konsep yang terkandung di dalamnya seperti himpunan, integral, kuadrat, perkalian, pertambahan, dan lain-lain. Atau organisme, metabolisme, fotosintesis, dan lain-lain merupakan konsep-konsep yang terdapat dalam ilmu biologi. Sebagaimana halnya dengan ilmu sosiologi. Kamu telah mampu menemukan topik-topik sosiologi. Topik itulah yang akan menjadi objek kajian sosiologi. Untuk memahami ilmu ini alangkah baiknya jika kita mengerti terlebih dahulu konsep-konsep dasar dalam sosiologi.
Secara umum konsep yang ada dalam sosiologi dinamakan realitas sosial. Apa saja bentuk-bentuk realitas sosial dalam sosiologi?
1. Masyarakat
    Kamu tentu paham dengan masyarakat, bahkan kamu bisa menunjukkannya. Tetapi, bisakah kamu mendefinisikannya?
Masyarakat adalah kumpulan orang-orang yang hidup di suatu wilayah tertentu dan membina kehidupan bersama dalam berbagai aspek kehidupan atas dasar norma sosial tertentu. Apakah kita juga termasuk dalam masyarakat? Tentu, kita adalah bagian dari masyarakat. Setiap masyarakat lahir karena adanya kerja sama di antara warganya dan terikat dalam suatu tata norma tertentu dalam ruang wilayah yang tertentu pula. Jadi, unsur-unsur pokok dalam masyarakat meliputi (Soerjono Soekanto, 1987):
  • Adanya manusia yang hidup bersama yang dalam ukuran minimalnya berjumlah dua orang atau lebih.
  • Adanya pergaulan (hubungan) dan kehidupan bersama antara manusia dalam waktu yang cukup lama.
  • Adanya kesadaran bahwa mereka merupakan suatu kesatuan.
  • Adanya sistem hidup bersama yang menimbulkan kebudayaan.
2. Interaksi Sosial
    Apakah interaksi sosial itu? Amatilah gambar di samping. Apa yang dilakukan dua orang itu? Setiap hari kita sering melakukannya. Pernahkah kamu berbincang dengan temanmu atau mengikuti suatu pertandingan atau kompetisi? Ketika kamu melakukan semua itu, berarti kamu telah melakukan interaksi sosial. Lantas, apa itu interaksi sosial?
Pada dasarnya, interaksi sosial adalah hubungan timbal balik antara individu dan individu, antara individu dan kelompok individu, dan hubungan timbal balik antara kelompok individu dengan kelompok individu yang lain. Di sisi lain interaksi sosial dapat diartikan suatu bentuk aktivitas individu dalam memenuhi kebutuhannya. Dalam interaksi sosial senantiasa berpedoman pada sistem tata nilai yang berlaku dalam masyarakat yang biasa disebut norma dan nilai sosial.
3. Sosialisasi
    Coba kamu amati gambar di samping! Apa yang kamu ketahui tentang gambar tersebut? Itulah contoh sosialisasi. Sosialisasi merupakan suatu proses pergaulan seseorang terhadap banyak orang di dalam masyarakat. Proses ini berlangsung pada setiap orang seumur hidupnya mulai dari lahir hingga meninggalnya. Melalui proses ini, seseorang akan memperoleh pengetahuan-pengetahuan, nilai-nilai, dan norma-norma yang akan membekali individu tersebut dalam pergaulannya. Bermain, belajar di sekolah, bergaul dengan teman-teman, membaca koran, menonton TV, merupakan contoh-contoh aktivitas kita dalam sosialisasi. Ketika kita mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial dan lingkungan budaya dalam masyarakat, berarti kita telah berhasil melakukan proses sosialisasi dengan masyarakat sekitar.
4. Nilai dan Norma
    Dalam interaksi sosial senantiasa berpedoman pada nilai dan norma. Apa itu nilai dan norma? Adakah sebagian dari kalian mengetahuinya? Cobalah kemukakan di depan kelas!
Pada hakikatnya, nilai adalah segala sesuatu yang dianggap baik dan benar oleh suatu kelompok masyarakat. Oleh karenanya nilai digunakan sebagai pedoman tingkah laku. Sedangkan norma merupakan perwujudan konkret dari nilai sosial. Norma dibuat agar warga masyarakat melaksanakan nilai-nilai yang ada. Oleh karena itu, dalam norma terdapat sanksi-sanksi bagi pelanggarnya. Pada hakikatnya sanksi merupakan alat untuk menekan atau memaksa warga masyarakat mematuhi nilai-nilai yang telah disepakati. Secara garis besar terdapat empat macam norma sosial yang berlaku dalam masyarakat, yaitu norma agama, adat/kebiasaan, kesusilaan/kesopanan, dan hukum.


Hubungan Antar Realitas Sosial
    Enam aspek di atas saling berhubungan, saling memengaruhi, dan saling menentukan. Aspek yang satu berpengaruh terhadap aspek yang lain, dan sebaliknya. Hubungan yang terjadi antaranggota masyarakat, mencerminkan adanya hubungan antarrealitas sosial yang ada. Misalnya, ketika Anda bergaul sesama teman sehari-hari di sekolah maupun di rumah, pasti berbeda dengan cara Anda bergaul dengan guru. Dalam pergaulan itu berbagai kenyataan sosial yang melatarbelakangi Anda, teman, dan guru Anda sangat berpengaruh. Apabila bergaul dengan sesama teman, Anda lebih bebas, misalnya dengan menyebut namanya secara langsung. Akan tetapi, dalam bergaul dengan guru, Anda tidak mungkin melakukan hal itu, kecuali kalau ingin disebut anak yang tidak sopan.
Hubungan Antar Realitas Sosial
Ilustrasi di atas menunjukkan bahwa setiap unsur realitas sosial saling berhubungan. Berikut ini dijelaskan adanya hubungan antarrealitas sosial itu.
1. Hubungan antara Nilai Sosial dengan Interaksi Sosial
    Berlangsungnya suatu interaksi sosial di masyarakat tidak dapat dilepaskan dari pengaruh nilai-nilai yang berlaku di masyarakat itu. Hal ini terjadi karena seseorang dalam bertindak harus memperhatikan prinsip-prinsip yang berlaku. Misalnya, ketika ada orang asing menanyakan alamat tertentu, maka dengan senang hati Anda akan menjawabnya sejelas mungkin. Itu karena tindakan Anda didasari oleh kesadaran menjunjung tinggi nilai tolong-menolong.
2. Hubungan antara Norma Sosial dengan Interaksi Sosial
    Agar pergaulan dalam masyarakat tertib dan teratur dibutuhkan aturanaturan atau norma-norma yang dapat mengarahkan interaksi sosial. Sebaliknya, interaksi sosial yang dilakukan seseorang akan selalu dipengaruhi oleh normanorma yang berlaku.
3. Hubungan antara Status dan Peranan Sosial dengan Interaksi Sosial
    Setiap orang memiliki status dan peran tertentu di dalam masyarakat yang harus dijalankannya. Seorang yang berstatus sebagai ustad atau pendeta memiliki peran sebagai pembimbing masyarakat dalam kehidupan beragama. Dengan peran sebagai pembimbing, maka tingkah laku atau tindakan sosial seorang pemuka agama tersebut harus mencerminkan perilaku yang dapat dicontoh. Di sinilah terlihat hubungan antara status dan peran sosial dengan interaksi sosial. Status sosial memberi bentuk dan pola terhadap interaksi sosial. Perbedaan antara status dan peran sosial menimbulkan konsekuensi terhadap tindakan dan interaksi sosial. Misalnya, dalam hal hubungan antara orang yang lebih tua dengan seorang anak yang lebih muda. Orang yang lebih tua memanggil seorang anak cukup dengan menyebut namanya langsung, tetapi seorang anak kalau memanggil orang yang lebih tua harus menyebut dengan kata “pak”, “kak”, atau “om” walaupun tidak ada hubungan kekeluargaan atau kekerabatan antarkeduanya. Dalam lingkungan yang lebih luas, misalnya dalam pergaulan di antara warga masyarakat Jawa. Perbedaan status dan peran sosial juga memengaruhi pola berinteraksi. Seorang warga masyarakat biasa, apabila harus menemui seorang pejabat harus berdiri dengan sedikit membungkuk dan kedua tangan menjuntai di depan sambil jari-jemarinya berjalinan (ngapurancang).
4. Hubungan antara Kebutuhan Dasar, Norma, dan Istitusi Sosial
    Manusia yang tinggal di dalam suatu masyarakat memiliki kebutuhan dasar, salah satunya yaitu pengaturan ikatan kekeluargaan. Untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan itu, diciptakanlah seperangkat norma. Norma seperti ini, mungkin berbeda dengan norma sejenis yang dimiliki masyarakat lain.
Hubungan antara Kebutuhan Dasar, Norma, dan Istitusi Sosial
Misalnya serangkaian norma itu adalah:
  1. seorang lelaki yang telah cukup dewasa dapat menikahi seorang wanita yang cukup dewasa,
  2. pernikahan di antara lelaki dan wanita berdasarkan rasa cinta yang tulus,
  3. pernikahan diatur sesuai dengan kepercayaan yang mereka anut,
  4. seorang lelaki hanya boleh menikahi seorang perempuan, dan sebaliknya,
  5. pergaulan lelaki dan wanita tidak boleh melanggar batas tertentu apabila keduanya belum menikah,
  6. seorang suami wajib memberi nafkah lahir dan batin kepada istrinya, 
  7. seorang istri wajib patuh kepada suaminya, dan
  8. apabila terpaksa terjadi perceraian, maka diselesaikan melalui pengadilan yang akan menentukan hak dan kewajiban masing-masing.
Semua norma itu saling berkaitan dan membentuk suatu rangkaian norma yang disebut sebagai institusi perkawinan atau pranata keluarga.
5. Hubungan antara Peran Sosial dengan Kebudayaan
    Peran sosial tidak terjadi secara naluriah, tetapi dipelajari dari kebudayaan masyarakat. Kebudayaanlah yang menentukan bagaimana seharusnya setiap orang berperan. Orang mempelajari banyak peran selama masa kanak-kanaknya dengan mengamati orang tuanya dan orang dewasa lainnya.
6. Hubungan antara Kelas Sosial dengan Interaksi Sosial
    Kelas sosial memengaruhi tingkah laku seseorang, nilai-nilai yang dianut, dan gaya hidup orang yang berada dalam kelas sosial tersebut. Orang-orang yang berasal dari kelas atas misalnya. Orang-orang kelas atas menyadari akan posisi mereka yang istimewa dan mencoba menjaga keistimewaan itu dengan melakukan perkawinan hanya dengan orang-orang yang berasal dari kelas mereka sendiri. Lain lagi dengan orang-orang dari kelas bawah yang pada umumnya kurang berpendidikan, mereka bekerja pada bidang-bidang yang tidak membutuhkan keterampilan khusus.


Konsep-Konsep Realitas Sosial
    Sosiologi adalah suatu studi ilmiah tentang kehidupan sosial manusia. Sosiologi mempelajari gejala-gejala sosial dalam masyarakat. Gejalagejala sosial yang muncul dalam masyarakat baik yang teratur maupun yang tidak teratur disebut dengan realitas sosial dalam masyarakat.
Konsep-konsep realitas sosial yang dipelajari oleh sosiologi adalah:
1. Keluarga
    Keluarga merupakan kesatuan sosial yang dipersatukan oleh ikatan perkawinan darah, terdiri atas suami, istri dan anak-anak. Karakteristik keluarga adalah sebagai berikut:
  • Keluarga dipersatukan oleh ikatan perkawinan, hubungan darah atau adopsi
  • Anggota keluarga biasanya hidup dalam satu rumah tangga
  • Melakukan interaksi dan komunikasi
  • Mempertahankankan suatu kebudayaan bersama sekaligus menciptakan kebudayaan.
Bentuk keluarga:
  • Keluarga inti (Keluarga batih), merupakan bentuk keluarga berdasarkan perkawinan tunggal, yang terdiri dari seorang Bapak, seorang ibu beserta anak-anaknya.
  • Keluarga besar, adalah bentuk keluarga , baik tunggal maupun berdasarkan bentuk perkawinan jamak (poligami) yang terdiri dari seorang Bapak, beberapa orang ibu atau kebalikannya, atau ditarik dari satu keturunan dengan seluruh keturunannya.
Tugas Keluarga adalah:
  • Tugas sosial biologis (untuk memenuhi kebutuhan biologis guna melanjutkan keturunan dan menyalurkan kasih sayang)
  • Tugas sosial kultural (sebagai media pewarisan budaya)
  • Tugas sosial ekonomi (untuk memenuhi kebutuhan kebutuhan hidup)
  • Tugas sosial religius (sebagai bagian daripada kehidupan sosial beragama).
2. Masyarakat
    Adalah sekelompok manusia yang permanen, melakukan interaksi antar individu dengan individu, individu dengan kelompok atau kelompok dengan kelompok. Dalam mempelajari masyarakat Sosiologi berarti mempelajari Jaringan hubungan antar manusia dalam hidup bermasyarakat.
3. Komunitas
    Komunitas adalah satuan sosial yang didasari oleh lokalitas, mempunyai ikatan solideritas yang kuat antar anggotanya sebagai akibat kesamaan tempat tinggal, memiliki perasaan membutuhkan satu sama lain, serta keyakinan tanah di mana tempat mereka tinggal memberikan kehidupan kepada mereka (Community Sentiment). Unsur-unsur sentimen komunitas terdiri dari: Unsur perasaan, unsur sepenanggungan dan unsur memerlukan. Contoh, para tenaga kerja Indonesia yang kerja di negara asing, para pelajar Indonesia yang sedang belajar di luar negeri.
4. Asosiasi
    Asosiasi atau perkumpulan adalah suatu kehidupan bersama antarindividu dalam suatu ikatan. Kumpulan orang atau sekelompok individu dapat dikatakan kelompok sosial apabila memenuhi faktor-faktor sebagai berikut : (1) kesadaran akan kondisi yang sama, (2) adanya relasi sosial, (3) dan orientasi pada tujuan yang telah ditentukan.


Kebudayaan sebagai Realitas Sosial Budaya
    Walaupun individu sudah membentuk aneka kesatuan, tetapi tidak serta-merta kebutuhan hidup manusia terpenuhi. Individu kini dihadapkan pada tantangan alam. Jawaban manusia terhadap tantangan alam akan melahirkan kebudayaan. Hal ini sesuai dengan pendapat Arnold Toynbee seperti dikutip oleh Soerjono Soekanto (1989) yang mengatakan bahwa di mana ada tantangan, di situ muncul usaha untuk memecahkannya, dan ini menciptakan kebudayaan. Jadi, kebudayaan merupakan segala perwujudan tanggapan manusia terhadap tantangan yang dihadapi dalam usaha menyesuaikan diri secara aktif dengan lingkungannya.
Dari pernyataan di atas, kalian dapat melihat bahwa kebudayaan memegang arti penting dalam kehidupan manusia. Sedemikian besar pengaruhnya bagi kelangsungan hidup manusia sehingga menjadi perhatian pelbagai disiplin ilmu pengetahuan. Lantas, bagaimana hasil kajian para ilmuwan tentang kebudayaan itu?
1. Pengertian Kebudayaan
    Istilah kebudayaan merupakan terjemahan dari istilah culture dalam bahasa Inggris. Kata culture berasal dari bahasa latin colore yang berarti mengolah, mengerjakan, menunjuk pada pengolahan tanah, perawatan, dan pengembangan tanaman dan ternak. Upaya untuk mengolah dan mengembangkan tanaman dan tanah inilah yang selanjutnya dipahami sebagai culture. Sementara itu, kata kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta, buddhayah yang merupakan bentuk jamak dari kata buddhi. Kata buddhi berarti budi dan akal. Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan kebudayaan sebagai hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia seperti kepercayaan, kesenian, dan adat istiadat. E.B. Tylor seperti dikutip oleh Soerjono Soekanto (1989) mendefinisikan kebudayaan sebagai segala hal yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat-istiadat, kebiasaan, serta kemampuan-kemampuan lain yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat.
Menurut Koentjaraningrat (1985) kebudayaan adalah keseluruhan ide-ide, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Definisi lebih singkat terdapat pada pendapat Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi (1964). Menurut mereka kebudayaan adalah semua hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. Bila disimak lebih saksama, definisi Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi lebih menekankan pada aspek hasil material dari kebudayaan. Sementara, Koentjaraningrat menekankan dua aspek kebudayaan yaitu abstrak (nonmaterial) dan konkret (material). Pada definisi Koentjaraningrat, tampak bahwa kebudayaan merupakan suatu proses hubungan manusia dengan alam dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya baik jasmaniah maupun rohaniah. Dalam proses tersebut manusia berusaha mengatasi permasalahan dan tantangan yang ada di hadapannya.
2. Unsur-Unsur Kebudayaan
    Meski perkembangan ilmu pengetahuan mutakhir menyebutkan bahwa kebudayaan bukanlah suatu
kesatuan utuh, namun para antropolog meyakini adanya unsur-unsur kebudayaan universal. Unsurunsur ini terdapat hampir di setiap kebudayaan yang ada saat ini. C. Kluckhohn seperti dikutip oleh Koentjaraningrat (1985) menyebutnya dengan istilah cultural universals. Tujuh unsur kebudayaan yang dianggap sebagai cultural universals, yaitu:
  1. Peralatan dan perlengkapan hidup manusia (pakaian, perumahan, alat-alat rumah tangga, senjata, alat-alat produksi, transportasi, dan sebagainya).
  2. Mata pencaharian hidup dan sistem-sistem ekonomi (pertanian, peternakan, sistem produksi, sistem distribusi, dan sebagainya).
  3. Sistem kemasyarakatan (sistem kekerabatan, organisasi politik, sistem hukum, sistem perkawinan).
  4. Bahasa (lisan maupun tertulis).
  5. Kesenian.
  6. Sistem pengetahuan.
  7. Religi (sistem kepercayaan).
3. Wujud Kebudayaan
    Dalam kehidupan sehari-hari, kebanyakan orang hanya menyebutkan wujud konkret kebudayaan saat diminta menunjukkan bentuk atau wujud kebudayaan. Contoh yang sering diambil adalah tari-tarian, nyanyian daerah, kesenian rakyat, dan sebagainya. Padahal, dalam pengertian sebenarnya, secara umum kebudayaan berwujud dalam dua bentuk yakni budaya yang bersifat abstrak dan budaya yang bersifat konkret. Wujud abstrak kebudayaan terletak di dalam pikiran manusia sehingga tidak kasat mata dan tidak dapat diserap oleh panca indra kita. Sementara, wujud konkret budaya terlihat pada tindakan atau perbuatan dan aktivitas manusia di dalam masyarakat yang dapat diraba, dilihat, dan diamati. Oleh karena tindakan dan aktivitas manusia itu menghasilkan barang, maka barang tersebut tergolong wujud konkret kebudayaan.
Atas dasar hal di atas, maka kebudayaan meliputi tiga bentuk, seperti yang digolongkan oleh Koentjaraningrat (1985), yakni:
  • Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, nilainilai, norma-norma, dan peraturan.
  • Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas dan tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat.
  • Wujud kebudayaan sebagai hasil karya manusia.
4. Etos/Jiwa Kebudayaan
    Etos/jiwa kebudayaan ialah watak khas suatu kebudayaan yang dapat diamati dari bentuk perilaku warga masyarakatnya. Etos sering tampak pada gaya, perilaku, kegemaran-kegemaran, dan berbagai budaya hasil karya masyarakatnya. Contoh: masyarakat Jawa memiliki etos kebudayaan yang khas seperti terlihat dalam watak serta perilaku orang Jawa yang selalu memancarkan keselarasan, ketenangan, jlimet, sopan santun, dan alon-alon asal kelakon (biar lambat tetapi selamat). Demikian juga pada etos budaya daerah lain yang tentunya tidak sama dan beragam.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Realitas Sosial (Macam-Macam, Contoh, Konsep, dan Hubungan Antar Realitas Sosial)"

Posting Komentar